sebab luna hilang
disembunyikan kekasihku
katanya, jika hatimu berlubang penuhi dengan bintang
di antara kerlipnya ada aku yang benderang
ia menepati janjinya
dan senja selesai
sisa matari yang rekah di kerling matamu itu adalah candu
senyum mengembangmu itu malu
menggenggam jemariku
memaksaku berlarian di sesaknya pelukmu
kau menunjuk-nunjuk laut
katamu, air adalah sebagus-bagus syarat bersuci
tapi aku mau airmatamu
menyucikan segala jiwa
adakah?
jika peluru itu menyebut-nyebut namaku
biar kuberikan segenap debur dadaku
#palestina
Lantas bisa disebut apa? Sapaan saya dijawab mentah-mentah seperti sampah. Entahlah, saya jadi mengerti. Mungkin untuk memahami seorang sahabat itu mesti mengukur kedalaman matanya. Geletar katanya. Ah, saya ini viktim kecerobohan diri saya sendiri. Atau, kalau saya salah, memang perlu dijauhi untuk menuju baik? Saya lelah! Bagi saya bukan seperti itu untuk teguran, tamparan sekali pun. Kalau begini, saya bisa tergesa-gesa menyimpulkan : pantas ummat ini terbelah, karena memahami pun tidak.
Nona. Tuan. Saya ini manusia.
Prolog di atas menyebut salah satu kebiasaan sahabat terhadap sahabatnya ketika si sahabat tak tahan menangkap perilaku sahabatnya sendiri. Dijauhi. Didiami. Dikucilkan. Diintimidasi mentalnya.
Begitulah, terkadang untuk menyikapi sebuah hubungan pun kita terlalu sulit mengejanya. Terbata meraba-raba apa yang sebijaknya kita lakukan.
Sahabat bukan orang yang memiliki hati yang sama seperti kita. Perasaan yang sama pekanya seperti kita. Bahkan, jalan fikir pun. Allah telah begitu baiknya menciptakan manusia dengan keragaman sempurna. Bertriliyun makhluk yang diciptakan, bertriliyun itu juga karakter yang tertanam. Dan, mengerti lah. Kita sebagai manusia -yang sekarang posisinya sebagai sahabat- bukanlah pembunuh karakter sahabat kita. Yang semau-mau kita tentang apa yang ia lakukan. Harus sesuai permintaan kita. Harus menurut akal sehat kita. Harus berjalan seperti perasaan kita. Ah, bukankah itu sama saja dengan mengedepankan ego? Lalu, kapan kita memikirkan tentang perasaannya? Tentang jalan pikirnya? Tentang ego yang ia matikan demi kemauanmu?
Sahabat itu wa tawasshoubil haqqi wa tawasshoubil sodri. Sama-sama menyadari bahwa yang kita cari terhadap sahabat kita bukanlah kesempurnaannya. Melainkan kedekatan kita kepada Robb ‘izzati.
#diangkat buat teguran diri sendiri. dedikasi buat sahabat. terkadang persahabat dilanda terpaan begini.
#saya akan mengangkat satu per satu krusialis persahabat begini :)
Sumpah Pemuda
“Kami putra dan putri Indonesia, mengaku
bertumpah darah yang satu, tanah air
Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku
berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung
tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia”
aku saja tak pernah meyakini
orang nomor satu di indonesia ini menghafalnya
ah,
atau mungkin masalah bangsa ini semakin rumit saja. sehingga, tak satu pun kaliat pada teks bersejarah ini dihafal. atau mungkin, memang karena otaknya bebal menghafal. — sebagai warga yang baik, kumaklumi itu —
tapi, atas nama apa sejarah dilupakan?
Pemimpin saja enggan menghargainya
bagaimana dengan berjuta rakyat yang menganggap beribu kebaikan padanya?
sudahlah, tuan
aku tak ingin membuat luka di hari yang menyanjung sejarah
sekarang lakukan apa maumu
biar staf-stafmu tunduk padamu
biar makin kau busung tinggi-tinggi dadamu
terlalu banyak protes tersimpan
meluap-luap banjir airmata mataair rakyatmu
terlampau keras peringatan tuhan di hari-harimu
gagak pun tergeragap
mana tuhan mana tuan
18.34
28102010
—athifaturrohmah—